{"id":499,"date":"2021-08-23T07:39:45","date_gmt":"2021-08-23T07:39:45","guid":{"rendered":"https:\/\/sporsio.com\/?p=499"},"modified":"2021-08-23T07:39:49","modified_gmt":"2021-08-23T07:39:49","slug":"olahraga-tradisional-indonesia-paraga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/2021\/08\/23\/olahraga-tradisional-indonesia-paraga\/","title":{"rendered":"Olahraga Tradisional Indonesia &#8216;Paraga&#8217;"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hallooo Teman-teman <em>Sporsio<\/em>&#8230; <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sesuai dengan judulnya, kali ini kita akan kembali membahas mengenai olahraga tradisional yang ada di Indonesia. Dan olahraga tradisional yang ketujuh ini akan membahas tentang <strong>&#8216;Paraga&#8217;<\/strong>. Mungkin ada yang belum tahu mengenai bagian ini, dan pastinya sedang bertanya sekarang, <em>Paraga <\/em>itu olahraga seperti apa dan bagaimana cara permainannya?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Sporsio Team <\/em>akan membagikan jawabannya bagi teman-teman dengan penjelasan yang singkat supaya teman-teman menjadi lebih tau lagi soal olahraga tradisional ditiap-tiap daerah yang ada di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Paraga<\/em> merupakan sebuah unsur permainan yang biasa dimainkan oleh beberapa anak muda yang lama-kelamaan dibudayakan menjadi sebuah olahraga tradisional sekaligus kesenian tradisional Bugis yang indah. Jadi sudah pasti tahu kan kalau <em>Paraga<\/em> berasal dari Bugis &#8211; Makasar, Sulawesi Selatan. Paraga ini sendiri hampir mirip dengan sepak takraw, dikarenakan bahannya sama-sama terbuat dari rotan. Satu bola utuh memiliki tiga lapis anyaman rotan, dan satu lapis anyaman membutuhkan waktu pembuatan 45 menit. Jadi dibutuhkan waktu sekitar dua jam untuk menganyam satu bola paraga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Uniknya olahraga tradisional ini adalah ia selalu dimainkan dengan iringan musik yang terdiri dari gendang, gong, calong-calong (alat musik yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara dipukul menggunakan potongan kayu). Musik inilah yang nantinya akan mengiringi para pemain saat Paraga dimulai, agar setiap pemain tetap semangat. Saat bermain Paraga, para pemain <em>Paraga<\/em> harus bergerak untuk memantul-mantulkan bola sambil menari mengikuti iringan musik yang dimainkan. Tapi perlu diketahui juga ya teman-teman, konon katanya bola yang dipakai para peraga diberi mantra khusus oleh guru atau pemain senior, agar keselamatan dan kekompakan para pemain tetap terjaga saat memainkan peraga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cara bermainnya cukup rumit. Bola rotan dipantul-pantulkan tidak hanya menggunakan kaki, tapi juga kepala dan tangan. <em>Paraga <\/em>dimainkan secara beregu dengan jumlah anggota minimal 6 (enam) orang. Para pemain Paraga juga memakai topi segitiga yang dilapisi kanji agar mampu menegak, dan membantu para pemain saat melakukan olah bola dikepala. Pemain juga mengenakan sarung yang menjadi bagian dari kostum mereka untuk mengolah bola paraga tetap stabil saat ditubuh mereka. Posisi pemain dalam mengolah bola peraga sangat beragam, mulai dari berdiri, duduk, jongkok sampai berbaring. Pemain peraga pun dimainkan dalam berbagai formasi, dan salah satu formasi unik yang biasa dimainkan oleh para pemain adalah formasi menara. Formasi menara terbentuk dari tumpukan para pemain yang berdiri diatas bahu pemain lainnya hingga berbentuk seperti menara. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hallooo Teman-teman Sporsio&#8230; Sesuai dengan judulnya, kali ini kita akan kembali membahas mengenai olahraga tradisional&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":500,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[2,59],"tags":[25],"class_list":["post-499","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-tranditional-sport-indonesia","tag-indonesian"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/sporsio.com\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/IMG-20191116-WA0012.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/499","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=499"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/499\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":501,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/499\/revisions\/501"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/500"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=499"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=499"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=499"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}