{"id":333,"date":"2021-08-20T02:43:02","date_gmt":"2021-08-20T02:43:02","guid":{"rendered":"https:\/\/sporsio.com\/?p=333"},"modified":"2021-08-20T02:45:13","modified_gmt":"2021-08-20T02:45:13","slug":"olahraga-tradisional-indonesia-jemparingan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/2021\/08\/20\/olahraga-tradisional-indonesia-jemparingan\/","title":{"rendered":"Olahraga Tradisional Indonesia &#8216;Jemparingan&#8217;"},"content":{"rendered":"\n<h3 class=\"has-text-align-center wp-block-heading\">Sporsio Team kali ini membahas olahraga tradisional kelima tentang <em>Jemparingan (tradisi panahan kuno)<\/em>. Olahraga ini mungkin sedikit tabu bagi masyarakat Indonesia, tapi tidak untuk kepulauan Jawa khususnya di Yogyakarta. Jemparingan sudah dimainkan sejak zaman Sr<strong>i <\/strong>Sultan Hamengku Buwono I. Di Jawa. <\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istilah <strong><em>Jemparingan <\/em><\/strong>bisa dianggap sebagai panahan. Eiitsss,,, tapi tunggu dulu, ini bukan sembarang memanah biasa, tempat kita berdiri! Olahraga ini mengharuskan kita untuk duduk bersila. Apalagi pemanah tidak hanya membidik secara kasat mata, melainkan menempatkan busur di depan perutnya. Peserta menggunakan indra mereka untuk mengambil gambar yang jelas. Orang yang berhasil mendapatkan paling banyak sasaran memenangkan permainan!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jemparingan <\/em>tidak hanya dianggap sebagai olahraga, melainkan juga penuh dengan nilai-nilai tradisional dan filosofis. Memang olahraga ini diakui memiliki sifat ksatria. Empat dari kebajikan ksatrianya adalah <em><strong>sawiji<\/strong><\/em>, yang berarti konsentrasi. <em><strong>Greget<\/strong><\/em>, didefinisikan sebagai antusiasme. <em><strong>Sengguh<\/strong><\/em>, artinya percaya diri. Dan <em><strong>Ora mingkuh <\/strong><\/em>yang artinya tanggung jawab. Ini adalah kebajikan yang harus diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang paling menariknya lagi adalah, bahan-bahan untuk pembuatan busur dan anak panah yang digunakan dalam&nbsp;Jemparingan bukan sembarangan lho ya. Busur dan anak panah dibuat dari bambu khusus yaitu bambu petung. Bambu petung hanya tumbuh di dataran tinggi dan harus didiamkan selama 4 tahun sebelum bisa digunakan sebagai busur dan anak panah. Selain itu juga kayu walikukun dan kayu jeruk nipis. Ternyata pembuatannya cukup ribet ya teman-teman&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam permainan Jemparingan juga punya aturan sendiri. Berikut penjelasannya :<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Si pemanah harus mengenai bandul putih dengan warna merah di atasnya yang digantung dengan tali sebagai sasaran tembaknya. Jadi lebih uniknya lagi adalah, jika anak panah itu tertancap pada bandul tersebut maka akan ada bunyi lonceng yang menandai bahwa si pemanah berhasil. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemanah juga harus duduk dengan posisi bersila dengan jarak 30 meter dari sasaran, kemudian pemain harus menembakan anak panah ke bandul putih yang menggantung dengan panjang kira-kira 30 centimeter. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari penjelasan tersebut, apakah kalian berminat untuk mencoba olahraga ini? Yang jelas, saat kita melakukan tantangan olahraga ini, kita juga perlu konsentrasi yang tinggi juga. Panahan berdiri saja kita bisa salah untuk membidik sasaran, apalagi dalam posisi duduk bersila.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sporsio Team kali ini membahas olahraga tradisional kelima tentang Jemparingan (tradisi panahan kuno). Olahraga ini&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":345,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[2,59],"tags":[],"class_list":["post-333","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-tranditional-sport-indonesia"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/sporsio.com\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/2.webp","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=333"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":348,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333\/revisions\/348"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/345"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=333"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=333"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=333"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}