{"id":323,"date":"2021-08-19T10:45:04","date_gmt":"2021-08-19T10:45:04","guid":{"rendered":"https:\/\/sporsio.com\/?p=323"},"modified":"2021-08-20T02:06:28","modified_gmt":"2021-08-20T02:06:28","slug":"olahraga-tradisional-indonesia-pathol","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/2021\/08\/19\/olahraga-tradisional-indonesia-pathol\/","title":{"rendered":"Olahraga Tradisional Indonesia \u2018Pathol\u2019"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"has-text-align-center wp-block-heading\">Olahraga Gulat Jepang (Sumo) ? Atau olahraga Gulat Korea Selatan (Ssireum) ? Yupss.. &#8216;Olahraga Tradisional&#8217; ketiga kali ini masih berbicara mengenai seni bela diri, Indonesia nyatanya turut dihiasi dengan olahraga tradisional bernama Pathol. Olahraga sejenis gulat tradisional ini diketahui berasal dari Sarang, Kabupaten Reembang, Jawa Tengah.<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pathol<\/strong> sendiri berasal dari kata <em>\u2018mathol\u2019 <\/em>yang jika diartikan adalah tidak bisa bergerak. Pathol Sarang dahulunya dipopulerkan oleh kaum nelayan di Kecamatan Sarang dan nelayan di sepanjang pantai utara Kabupaten Rembang. Pada zaman dahulu, para nelayan kerap meminta tolong temannya saat perahu kepathol karena kandas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam catatan sejarah, Olahraga tradisional ini lahir pada era kerajaan Majapahit. Saat Pangeran Sri Sawardana adik penguasa Lasem Bhree Lasem (Dewi Hindu), berniat membentuk prajurit angkatan laut untuk mengamankan pelabuhan yang saat itu rentan diserang oleh perompak dan penyamun di Tuban, Jawa Timur. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apakah ada yang merasa sedikit familiar dengan olahraga pathol ini ? Yups, betul sekali. Olahraga pathol ini bisa dikatakan hampir mirip dengan olahraga Jepang <em>(Sumo)<\/em> dan olahraga Korea Selatan <em>(Ssireum)<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun kini, Pathol dibudidayakan sebagai olahraga bela diri. Olahraga ini digelar di pesisir pantai menjelang purnama atau pada hari-hari istimewa, seperti pada hari Kemerdekaan Indonesia dan peringatan sedekah desa atau biasa disebut <strong><em>Sedekah Laut<\/em><\/strong>, kegiatan tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat setempat. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam olahraga ini, dua orang yang berlaga saling berhadapan untuk bertarung dan berusaha saling mengunci lawan. Sampai salah satu diantara kedua orang benar-benar terkunci dan menyerah atau dinyatakan kalah. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain kedua pemain, terdapat juga panjak (pengrawit) untuk mengiringi para pemain Pathol. Minimal dibutuhkan lima orang pengrawit yang memainkan kendang, kempul (gong kecil), lenong, bonang, dan saron.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sepanjang pertarungan, panjak atau pemain gamelan akan menabuh gamelan. Jika gamelan berhenti, berarti pertarungan juga usai. Pertarungan baru akan selesai ketika wasit sudah menyatakan salah satu dari pemain telah kalah sambil berjoget. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Olahraga Gulat Jepang (Sumo) ? Atau olahraga Gulat Korea Selatan (Ssireum) ? Yupss.. &#8216;Olahraga Tradisional&#8217;&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":324,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[2,59],"tags":[],"class_list":["post-323","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-tranditional-sport-indonesia"],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/sporsio.com\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/home_advluarbiasa_public_html_cache_news_2020_03_31_efec9cae3510_crop_720_480_rel_left_top.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/323","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=323"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/323\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":341,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/323\/revisions\/341"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/324"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=323"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=323"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sporsio.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=323"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}